26.01 2026

Vernacular Dilemma Dilema Vernakular

Discussion about old things in post-modern era Diskusi tentang hal-hal lama di era post-modern

Vernacular vs Modern

Vernacular vs Modern Vernakular vs Modern

Betawi, Jakarta, Indonesia Betawi, Jakarta, Indonesia

Vernacular doesn't want to, but modern doesn't reach either. Vernakular tak mau, tapi modern pun tak sampai.

Vernacular doesn't want to, but modern doesn't reach either. How should we use cultural heritage? Should we put the old in museums, modify what's still relevant? Or must it be preserved and used as-is? In short, vernacular refers to something original, local, or indigenous — developed without external professional intervention, formed from local knowledge through trial and error by predecessors. Unlike the word "traditional", vernacular principles are not tradition-bound or regulated for generational use. The word "use" feels too crude when paired with "culture". As if culture is merely functionality, profit-loss, made in a factory. Yet that is the modern mindset — judging things by function, effectiveness, efficiency, and universality.

Vernakular tak mau, tapi modern pun tak sampai. Bagaimana seharusnya kita menggunakan warisan budaya? apakah museumkan yang lama, lalu modifikasi yang masih relevan? atau harus tetap dipertahankan & digunakan sebagaimana adanya? Secara singkat, vernakular adalah istilah yang merujuk pada sesuatu yang asli, lokal, atau pribumi, berkembang tanpa campur tangan profesional eksternal dan terbentuk dari pengetahuan lokal melalui "trial and error" dari pendahulunya. Berbeda dengan kata "tradisional", prinsip vernakular tidak bersifat tradisi atau diatur untuk digunakan turun-temurun. Kata "menggunakan" rasanya terlalu rendahan jika kita menyandingkannya dengan kata "budaya". Seolah budaya hanya sebatas fungsionalitas, untung-rugi, dan seperti sesuatu yang dibuat dalam sebuah pabrik. Namun begitulah pola pikir manusia modern, menilai sesuatu berdasarkan fungsi, efektifitas, efisien, dan universal (fleksibel digunakan untuk semua orang).

Post-Colonial Dilemma

Post-Colonial Dilemma Dilema Pasca-Kolonial

Indonesia Post-Independence Indonesia Pasca Kemerdekaan

Indonesia is a multi-cultural nation that experienced colonialism. Indonesia merupakan negara multi-kultural yang mengalami masa penjajahan atau kolonialisme.

Indonesia is a multi-cultural nation that experienced colonialism. From the colonizers, various modern knowledge entered Indonesia to the farthest corners. After independence, Indonesians seemed confused about their own culture. One, they have traditional cultural heritage (but considered old-fashioned and boring). Two, they were helped by and liked the modern knowledge brought by colonizers (though it may not fit their traditional culture). Three, they felt the need to create a new identity and culture symbolizing national unity (though their own motto is "unity in diversity").

Indonesia merupakan negara multi-kultural yang mengalami masa penjajahan atau kolonialisme. Dari penjajah itulah berbagai ilmu modern masuk ke indonesia sampai ke pelosok-pelosok negri. Setelah Indonesia merdeka, masyarakat Indonesia seolah kebingungan akan budaya mereka sendiri. Satu, mereka punya warisan budaya adat/tradisional (namun dianggap kuno dan membosankan). Dua, mereka terbantu dan suka akan pengetahuan modern yang dibawa penjajah (padahal belum tentu cocok dengan budaya tradisional mereka). Tiga, mereka merasa perlu membuat identitas dan budaya baru yang melambangkan persatuan negara Indonesia (padahal slogan negaranya sendiri adalah "berbeda-beda tapi tetap satu").

Lost in the Post-Modern Era

Lost in the Post-Modern Era Tersesat di Era Post-Modern

Neo-Vernacular Dilemma Dilema Neo-Vernakular

Today, we no longer live in the pre-modern era (vernacular), nor the modern era (Dutch colonial period) — we live in the post-modern age. Saat ini, kita sudah tidak lagi hidup di era pra-modern (vernakular), juga sudah melewati era modern (zaman penjajahan belanda), kita hidup di zaman post-modern.

Today, we no longer live in the pre-modern era (vernacular), nor the modern era (Dutch colonial period) — we live in the post-modern age. One fruit of post-modern thinking is the emergence of Neo-vernacular or critical regionalism, where vernacular knowledge should be combined with modern knowledge so we gain modern conveniences while retaining the noble values of vernacular wisdom. But in many places in Indonesia, we seem lost about our cultural direction. No longer wanting or able to be vernacular (due to limited natural resources and the influx of modern professionals), yet knowing that the modern culture they use doesn't positively impact cultural identity. This continues over time, and we fear it may be too late. Some lose their traditional houses while struggling to chase modernity (trying to become America or Europe), when their cultural potential is far greater than they realize.

Saat ini, kita sudah tidak lagi hidup di era pra-modern (vernakular), juga sudah melewati era modern (zaman penjajahan belanda), kita hidup di zaman post-modern. Salah satu buah dari pemikiran post modern adalah munculnya prinsip Neo-vernakular atau regionalisme kritis dimana seharusnya, pengetahuan vernakular dikombinasikan dengan pengetahuan modern agar kita mendapatkan kemudahan dari pengetahuan modern, namun tetap memiliki nilai luhur ala pengetahuan vernakular. Namun kondisinya, di berbagai tempat di Indonesia, kita seperti tersesat tentang arah budaya kita. Sudah tidak mau dan tidak mungkin vernakular (karena keterbatasan sumber daya alam, dan juga masuknya profesional dengan pengetahuan modern), tapi juga tahu bahwa budaya modern yang mereka gunakan saat ini tidak berdampak baik bagi identitas kultural. Hal ini berjalan terus seiring waktu dan khawatir semuanya jadi terlambat. Sebagian kehilangan rumah-rumah adatnya sembari bergumul mengejar modernitas (berusaha menjadi amerika atau eropa), padahal potensi budaya yang mereka punya jauh lebih besar dari yang mereka kira.

In your opinion, who is most capable of formulating and imagining post-modern cultural development? Village residents? Academics? NGOs? Government? Or could there be collaboration among all? Menurutmu, siapa pihak yang paling capable untuk merumuskan dan mengimajinasikan perkembangan budaya ala post-modern kedepan? Apakah warga kampung? akademisi? NGO? pemerintah? atau mungkinkah ada kerjasama dari semua pihak itu?

Artwork by Karya seni oleh Radhian

Article by Artikel oleh Radhian

Betawi, Jakarta, Indonesia • 2026

Your Response Tanggapan Anda

Thank you for your response! Terima kasih atas tanggapan Anda!