.01
.02
.03
26.01 2026

Vernacular Dilemma

Discussion about old things in post-modern era

Vernakular vs Modern

Vernakular vs Modern

Betawi, Jakarta, Indonesia

Vernakular tak mau, tapi modern pun tak sampai. Bagaimana seharusnya kita menggunakan warisan budaya? apakah museumkan yang lama, lalu modifikasi yang masih relevan? atau harus tetap dipertahankan & digunakan sebagaimana adanya? Secara singkat, vernakular adalah istilah yang merujuk pada sesuatu yang asli, lokal, atau pribumi, berkembang tanpa campur tangan profesional eksternal dan terbentuk dari pengetahuan lokal melalui "trial and error" dari pendahulunya. Berbeda dengan kata "tradisional", prinsip vernakular tidak bersifat tradisi atau diatur untuk digunakan turun-temurun. Kata "menggunakan" rasanya terlalu rendahan jika kita menyandingkannya dengan kata "budaya". Seolah budaya hanya sebatas fungsionalitas, untung-rugi, dan seperti sesuatu yang dibuat dalam sebuah pabrik. Namun begitulah pola pikir manusia modern, menilai sesuatu berdasarkan fungsi, efektifitas, efisien, dan universal (fleksibel digunakan untuk semua orang).

Dilema Pasca-KolonialTersesat di Era Post-Modern
Dilema Pasca-Kolonial

Dilema Pasca-Kolonial

Indonesia Post-Independence

Indonesia merupakan negara multi-kultural yang mengalami masa penjajahan atau kolonialisme. Dari penjajah itulah berbagai ilmu modern masuk ke indonesia sampai ke pelosok-pelosok negri. Setelah Indonesia merdeka, masyarakat Indonesia seolah kebingungan akan budaya mereka sendiri. Satu, mereka punya warisan budaya adat/tradisional (namun dianggap kuno dan membosankan). Dua, mereka terbantu dan suka akan pengetahuan modern yang dibawa penjajah (padahal belum tentu cocok dengan budaya tradisional mereka). Tiga, mereka merasa perlu membuat identitas dan budaya baru yang melambangkan persatuan negara Indonesia (padahal slogan negaranya sendiri adalah "berbeda-beda tapi tetap satu").

Tersesat di Era Post-Modern
Tersesat di Era Post-Modern

Tersesat di Era Post-Modern

Neo-Vernacular Dilemma

Saat ini, kita sudah tidak lagi hidup di era pra-modern (vernakular), juga sudah melewati era modern (zaman penjajahan belanda), kita hidup di zaman post-modern. Salah satu buah dari pemikiran post modern adalah munculnya prinsip Neo-vernakular atau regionalisme kritis dimana seharusnya, pengetahuan vernakular dikombinasikan dengan pengetahuan modern agar kita mendapatkan kemudahan dari pengetahuan modern, namun tetap memiliki nilai luhur ala pengetahuan vernakular. Namun kondisinya, di berbagai tempat di Indonesia, kita seperti tersesat tentang arah budaya kita. Sudah tidak mau dan tidak mungkin vernakular (karena keterbatasan sumber daya alam, dan juga masuknya profesional dengan pengetahuan modern), tapi juga tahu bahwa budaya modern yang mereka gunakan saat ini tidak berdampak baik bagi identitas kultural. Hal ini berjalan terus seiring waktu dan khawatir semuanya jadi terlambat. Sebagian kehilangan rumah-rumah adatnya sembari bergumul mengejar modernitas (berusaha menjadi amerika atau eropa), padahal potensi budaya yang mereka punya jauh lebih besar dari yang mereka kira.

Menurutmu, siapa pihak yang paling capable untuk merumuskan dan mengimajinasikan perkembangan budaya ala post-modern kedepan? Apakah warga kampung? akademisi? NGO? pemerintah? atau mungkinkah ada kerjasama dari semua pihak itu?

Artwork by Radhian

Article by Radhian

Betawi, Jakarta, Indonesia • 2026

Your Response